Siapa sih yang gak pernah ngerasain Masa Orientasi Siswa alias MOS.
Sebuah
masa dimana para siswa di latih untuk merasakan atmosfer
sekolah baru mereka. Biasanya anak - anak yang akan melewati
periode ini bakal berdandan seaneh mungkin. Gak, itu bukan
keninginan mereka. Itu adalah titah dari para senior OSIS di
sekolah.
Titah
mereka itu sebuah keharusan. Barangsiapa melanggar, bersiaplah
dengan segala konsekuensinya. Banyk yang ngeluh lho soal MOS,
kayak si Joni. Emang ngapain sih dia pas di MOS? Penasaran?
Eh enggak? Pokoknya penasaran nggak penasaran langsung simak
aja kisahnya.
Hari ini
hari minggu, tapi
cuaca yang sangat
menyengat membuat sebagian
besar orang –
orang lebih memilih
untuk tinggal dirumah
daripada berkeliaran diluar saat cuaca
seperti ini. Namun, ada
sesosok manusia dengan
langkah gontai terlihat
sedang berjalan ditengah teriknya
matahari. Terlihat keringat
sebesar biji jagung
mengalir deras dari
sela – sela rambutnya yang
bermodel belah tengah
menuju jidatnya yang
cukup lebar itu. Dengan cekatan ia menyeka
keringat yang naik
di hidungnya yang
tidak mancung itu.
Tak salah lagi, dia
adalah tokoh utama
dari cerita ini.
Meskipun wajahnya sama
sekali tidak meyakinkan
untuk dijadikan tokoh
utama. Dan nama
pemuda itu adalah
Joni.
Saat ini Joni
adalah siswa baru
di SMA Esok
Hari. Selama masa
MOS ( Membuat Orang
Stress), Joni menjadi
bulan-bulanan oleh kakak
kelasnya yang haus
akan darah segar
siswa baru. Gimana
nggak? Para kakak senior itu meminta
para balon (Bakal
Calon) adik kelas mereka
untuk membawa benda – benda
asing. Cowok bertinggi
170 cm dengan
kulit sawo mateng ( bahkan terkesan kematengan ) itu, bahkan
nggak ngerti sama
sekali dengan permintaan
kakak kelasnya, seperti yang
ini, dia menjadi
lumayan pusing karena
nggak bisa menemukan
yang namanya cokelat
ratu perak. Dia
sudah coba cari
kemana – mana. Di Mal
nggak ada, di mini
market nggak nemu,
di toko material apa
lagi. Setelah seharian
mencari ke seluruh pelosok
negeri nggak ketemu ,
akhirnya Joni memutuskan
pulang. Di perjalanan
pulang, Joni melihat
warung kecil dengan tembok
bercat biru yang catnya sudah
banyak mengelupas disana
sini. Dan sepertinya
Joni melihat apa
yang dicarinya sedari
tadi.
“Mpok, cokelat
ini harganya berapa?”
Tanya Joni kepada wanita
separuh baya yang
mengenakan daster cokelat,
sembari menunjuk ke
arah cokelat yang
dimaksud.
“Oh, yang
ntu mah harganye murah…”.
“Iya , tapi
murahnya berapa?” Joni
sambil mengambil beberapa cokelat dari dalam toples.
“Gope dapet
dua!”
“Kalo gitu
saya beli empat
deh”, kata Joni
sambil memberikan uang
seribuan lecek dari kantong
bolongnya.
“Makasih ye”.
Joni pun
pulang dengan hati
yang lega setelah
berhasil mengumpulkan item
- item yang
diajukan oleh seniornya.
Sesampainya dirumah Joni
mulai mengabsen item-item
tersebut. Mulai dari
cokelat ratu perak
hingga teri bajak
laut. “Hm…komplit semuanya,” ujarnya sambil
tersenyum lega. “Tinggal
tunggu sisanya dari
mami deh”.
Pucuk dicinta
nasi ulam pun tiba.
Orang yang ditunggu
oleh Joni, yaitu
maminya sendiri datang
dengan membawa sebuah
kantong kresek hitam.
“Nih yang kamu
pesen, nggak ada
yang lebih aneh
lagi kan?” ujar
maminya yang siang
itu juga ikut
hunting barang – barang aneh
pesenan senior Joni. Joni
Cuma tersenyum kecil
melihat maminya tersayang
keringetan. Itung – itung bantuin
mami ngecilin perutnya
yang gendut, pikir
Joni dalam hati.
Seperti memiliki indera
keenam, mami Joni
langsung mengancam kalo – kalo
Joni pengen ngatain
perut maminya yang
gendut itu. Joni
emang hobi ngomentarin
keadaan orang dirumahnya
bahkan disekelilingnya. Nggak perut
mami yang buncit,
kepala papi yang
botak, sampe pipi
adiknya, si Jini, yang
tembem kayak bakpao
Cina juga kena
sasaran. Namun Joni
bukan tidak ada
celah untuk di cela,
badannya yang kurus
menjadi sasaran empuk
untuk membalas celotehan
Joni.
Tiba – tiba terdengar
suara pintu dibanting
dengan kerasnya. Sampe – sampe Joni en
maminya jungkir balik
saking kagetnya. Ternyata
yang barusan berulah
seperti itu adalah
Jini yang baru
pulang dari belajar
kelompok. Belakangan ini
Jini jadi getol
banget belajar kelompok,
sehingga Joni pun
mencium gelagat aneh
dari adiknya. Apalagi
sejak datang tadi
Jini cengar – cengir terus.
“kenapa lo
cengar – cengir sendiri,
udah gila ya?”
“ye….kak Joni
kali yang gila,
udah deh… nggak usah
ngurusin orang, urusin
aja tuh persiapan perang
lo yang aneh – aneh
itu…” jawabnya sambil
ngeloyor ke kamar
meninggalkan kakak dan
maminya yang terbengong – bengong. Begitu
masuk ke kamar
Jini langsung membanting
pintu kamarnya, kejadian
tersebut ( baca: tsb )
sukses membuat mami
dan Joni jaipongan
saking kagetnya.
Ketika sedang
makan malam, papi
yang biasanya semangat
makan jadi males
makan. Bukan gara – gara
ditinggal mami yang masih
bantuin Joni yang
nyiapin alat perang
buat besok, dan
ditinggal Jini yang
masih mesam – mesem sendirian, tapi
lebih cenderung karena
nggak ada yang
bisa dimakan, lantaran
mami nggak masak
karena sibuk bantuin
Joni.
“ Mami gimana
sih, masa makan
malem cuma pake
nasi sama kerupuk?”
ujar papi protes.
“ Maaf honey…
soalnya tadi sibuk
hunting barang pesenan
Joni, aku jadi
lupa mau belanja
buat makan malem…”
ujar mami, “lagipula, di
iklan TV ada anak
kecil makan pake
nasi sama kecap
plus kerupuk aja
bisa sehat”.
“ Lagian, gituan
aja diurusin…”
“ Iya tuh
pi, mana nggak
jelas gitu…” tiba – tiba
Jini ikut ngoceh.
Jini emang paling
hobi ikut campur sama
urusan orang lain.
“ Yeee…
yang nggak penting
tuh elo, dari
tadi cengar – cengir nggak
jelas!” Joni ikut
panas.
“ Eh ni anak
dua, malah berantem… ini
kan adegan mami
sama papi yang
berantem!” ujar kedua orang
tua Joni. Keributan
langsung membahana ke seluruh
penjuru rumah, sampe – sampe
tikus aja ikut
berantem, gara – gara tikus
jantannya selingkuh. Kegaduhan
memang menjadi bumbu
sehari – hari dalam keluarga
tersebut, namun akan
segera tenang saat
jam tidur tiba.
Kecuali cacing di perut
papi yang masih
demo gara – gara belon
dikasih pakan.
Keesokan harinya,
Joni berangkat sekolah
dengan seragam wajibnya.
Sebenarnya malu juga
sih pake pakaian
ginian. Udah tas
Cuma kantong kresek,
pake sandal harus
terbalik, kaos kaki
belang betong, trus
pake topi koran
lagi. Kebayang kan
pake atribut super aneh
kayak begini di
atas angkot.
“Mama, liat
deh kakak itu… aneh
banget ya?” ujar
seorang bocah tk
disebelah Joni pada
ibunya.
“Eh, nggak
boleh begitu, biar
jelek - jelek begitu, kakak
itu nggak cakep
lho…” ujar ibu
itu dengan entengnya.
Ucapan ibu
itu barusan memang
terlalu jujur, sampai – sampai Joni
hampir menangis, hanya
saja dia gengsi
dengan cewek – cewek ca’em
yang memenuhi angkot
tersebut. Akhirnya Joni
sampai juga di
sekolah barunya. Sekolahnya
memang bukan sekolah
mewah, mungkin karena
sekolahnya hanya sekolah
swasta yang murah
meriah. Mungkin alasan
yang lebih tepatnya,
karena dia nggak
bisa masuk SMU
negeri, karena nilainya
yang jeblok.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar