Ketika Joni
melihat hasil ujian
kelulusan SMP dulu,
Joni sempat bangga
ketika nilai bahasa
Indonesia en inggrisnya
cukup mentereng, tapi
ketika melihat nilai
metematikanya Joni langsung
jadi lemah gemulai.
gimana nggak lemes ? nilai
matematikanya waktu itu
nyaris masuk jurang
degradasi , padahal nilai
standarnya 5,0 sedangkan
nilai Joni 5,3.
kebayang dong gimana
jadinya kalo satu
soal lagi Joni
salah. hasilnya adalah
bisa – bisa doi di asingkan
di kampungnya, yaitu
di daerah lampung
sambil ngangon gajah !!
Yah, suatu
hal bisa diambil
hikmahnya , dari kejadian
itu Joni mengambil
kesimpulan bahwa dirinya
saat itu terlalu
jujur untuk ketegori
pelajar modern. Padahal
waktu itu teman – temannya saling
contek mencontek . namun
saat itu Joni
merasa mancontek adalah
hal yang sia – sia
dan sangat bodoh.
Oleh karena itu,
mulai saat ini
Joni nggak bakalan
melewatkan saat – saat mencontek.
Meskipun Joni termasuk
siswa yang nggak
bodoh – bodoh amat , tapi
bodoh banget, he…
Akhirnya Joni
tiba didepan gerbang
sekolahnya , dia mulai
mencari kelas X-2.
Dengan sok tahu
dia masuk ke
ruang yang ada
di depan tangga
sekolahnya. Namun, ternyata
ruang yang dimasukinya
adalah ruang guru.
karena urat malunya
mungkin sudah putus,
Joni malah cengengesan
di ruang guru
itu, hingga akhirnya
Joni di beritahu letak
kelas yang ia
tuju. Sesampainya dikelas , Joni mulai bingung
kerena belum ada
satupun siswa apalagi
siswi yang ia
kenal. Sampai akhirnya
ada seseorang yang
menepuk pundaknya dari
belakang.
“Woi Jon,
ngapain lo bengong di depan
pintu begini?” ujar
seseorang dari belakang
hingga Joni kaget
bukan main. Saking
kagetnya Joni sampai
loncat ke langit – langit kelas.
“Wah , Gugum
ya!” Joni yang
masih kaget mengelus – elus dadanya
yang kurus kayak
papan penggilesan.
“ Anda benar!”
ujar Gugum meniru
presenter kuis di
tipi – tipi, jari
telunjuknya diacungkan kearah
Joni. Gugum adalah
teman Joni ketika
di SMP. Orangnya agak
gemuk , rambutnya keriting, selain
itu dia lebih
putih, tinggi, dan
berduit daripada Joni.
Maklum, Gugum yang
aslinya bernama Agum
Firman ini adalah
orang Betawi asli
yang babehnya punya kontrakan
bejibun plus jadi
bandarnya angkot di daerah
Jakarta bagian tenggara
ini.
“Kelas lo
dimana?”.
“Disini,” jawab
Gugum sambil menunujuk ke dalam
kelas yang sedang
dituju oleh Joni.
“Kalo gitu
kita sekelas lagi
donk!” .
“Kita ? lo aja
kali sama orang
ganteng!” ujar Gugum
pede, Joni jadi
sebel.
Akhirnya bel masuk
sekolah berbunyi. Para
kakak senior langsung
mengumpulkan para juniornya
di halaman sekolah.
Mereka dibariskan sedemikian
rupa, sehingga daripada
disebut penerimaan siswa
baru, pemandangan sekarang
lebih tepat disebut sebagai
penerimaan pasien sakit
jiwa baru. Jika
ditilik dari dandanannya.
“ Cepat keluarkan
barang – barang yang kami
pesan kemarin!” perintah
sang ketua OSIS tersebut
dengan lantang. Ketua
OSIS sekolah ini
adalah seorang siswi
cantik yang bernama
Sabrina, rambutnya sepunggung,
kulitnya putih, hidungnya
mancung, pokoknya nggak
kalah deh sama
bintang film flora
dan fauna. Namun,
galaknya ngelebihin anjing
tetangganya Joni, meskipun
Joni tahu tetangganya
nggak ada yang
punya anjing. Ketua
OSIS tersebut dengan
segera menyuruh para
antek – anteknya untuk mengecek
kebenaran barang bawaan
anak – anak baru. Banyak
dari para anak
baru yang salah
bawa barang dan terang
aja langsung diberi
tugas yang aneh – aneh.
Seperti orang gemuk
dan bermuka boros
yang rambutnya
mirip Tukul bernama
Tu’in, Joni tahu
nama siswa itu
karena semua siswa
baru memakai papan yang
tergantung didada dengan
bertuliskan nama mereka.
“ Oh jadi
nama kamu Tu’in?”
ujar sang ketua
OSIS itu.
“ i…iya kak” ujarnya
sambil menggaruk kepalanya yang
mirip kotak amal.
“ Kok Tuin
doang? Nama panjangnya apaan?”
Tanya ketua OSIS
itu galak.
“Nama
panjang saya…”
“ Apa !!!”
“ Nama panjang
saya…”
“ Lama banget
sih lo… kayak banci
aja…”.
“
Tu’iiiiiiiiiiiiin kaaaaaakkk….” kata
Tu’in setengah berteriak.
Anak – anak pada cekikikan mendengarnya
“
Siapa suruh kalian
ketawa!!!’’ ujar kak
Sabrina kepada para
siswa baru. Dan
hasilnya semua pada
mingkem dengan sukses.
“Kamu tahu
kenapa kamu disuruh
kedepan
“ Karena saya
nggak bawa sayuran
perang”.
“ Nah, kalau kamu
sudah tahu berarti
kamu harus dihukum”
katanya sambil memikirkan
hukuman yang pas untuk
Tu’in. “Kalau gitu
kamu harus lari
keliling sekolah sambil
teriak ‘AKU BANCI’ ,
oke?”.
Tu’in pun menurut
dan mulai melakukan
aksinya. Dia melakukannya
dangan penuh penghayatan.
Kedua tangannya diangkat
keatas dan dia
mulai berlari dengan
gaya bencong dikejar
trantib. Satu sekolah
pun cekikikan melihat
aksi berani Tu’in.
Joni sebenarnya pengen
ketawa ngakak kalo
nggak inget hukuman
bagi yang ngetawain.
Anggota OSIS
yang lain kembali
memeriksa barang bawaan
siswa lainnya. Sebagian
ada yang lolos,
adapula yang kena
sial hingga terkena
hukuman. Akhirnya tiba
giliran Joni , dengan
pede dia ngeluarin
semua item yang
dipesan. Mulanya semua
berjalan dengan lancar ,
sebelum para OSIS
menanyakan dimana cokelat
ratu peraknya. Lalu
Joni merogoh kantongnya
dan mengeluarkan empat
cokelat yang berbentuk
koin perak dengan
gambar ratu dibungkusnya.
“ Nih saya
bawain cokelat ratu
perak “ ujar Joni
sombong.
“ Apaan nih
?” ucap
sang pemeriksa sambil
melempar cokelat Joni.
“ Loh kok
dibuang sih cokelat
ratu perak saya ?”
ujar Joni sambil
memunguti cokelatnya yang
dilempar barusan.
“ Eh o’on ,
itu bukan cokelat
ratu perak” katanya
sambil menoyol kepala
Joni, “yang kita
maksud tuh ini !”
sang pemeriksa menunjukkan
cokelat Silver Queen.
Akhirnya Joni
baru mengerti, kalo
cokelat ratu perak
yang dialih bahasakan
ke bahasa Inggris
jadinya Silver Queen. Joni
pun menerima hukuman
yang sama sadisnya
dengan hukuman Tu’in ,
yaitu berlari ke
seluruh sekolah sambil
berteriak “AKU GOBLOK”.
Mungkin Hari ini
nggak akan bisa
dilupain seumur hidup
Joni, kecuali kalo
Joni udah pikun.
Saat jam
istirahat, Joni pergi
kekantin bersama Gugum.
Gugum terlihat santai
dan rileks, nggak
seperti Joni yang
suara dan tenaganya
abis gara – gara disuruh
lari keliling sekolah
sambil teriak – teriak. Dan
juga karena gugum tidak mendapat hukuman
karena semua yang ia
bawa benar. Segera
mereka menuju ke meja
yang berada paling
ujung, karena hari
itu kantin penuh
sekali. Baru saja
pantat Joni nempel
dibangku, tiba – tiba ada
cewek manis menghampirinya. Dengan
cepat Joni mengganti
raut wajahnya yang
kusut dengan raut
wajah paling ganteng
yang ia miliki.
Dan sepertinya cewek
itu juga anak
baru, terlihat dari
dandanannya yang nggak
beda jauh sama
Joni.
“ Boleh saya
duduk di sini?”
“ Bo…bodoh, eh…
boleh, boleh kok” kata
Joni gelagapan.
“ Eh, kayaknya
saya pernah liat
kamu deh?”
“Ya jelas
dong, tapi jangan
bilang siapa – siapa ya kalo
gue artis..” ujar Joni
penuh keyakinan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar